Sunday, April 22, 2012

Cerita di Suatu Pagi

Subhanallah.. Pagi tadi aku bermimpi.. Aku bermimpi membaca catatan kecilmu tertanggal 27 Februari yang berisi semua sosok terdekat dalam hidupmu dan betapa mereka berarti untuk dirimu. Di lembar paling belakang, di baris akhir tertulis "dan Chika.. she'sloveofmylife"

Dan kamu mulai membuka suara, "yang kayak gitu harus gue tulis dimana lagi Chik? Di blog kakak gue?"

Mataku menghangat melihat tulisan itu, hatiku lega, perasaanku dipenuhi cinta. Pertanyaanku selama ini telah terjawab tanpa harus aku verbalkan. Namaku ada disana, ditulisan itu. Tulisan yang aku yakin hanya akan kamu bagi kebeberapa orang tertentu saja untuk mengetahuinya.

Dan kali ini aku telah di yakini, kali ini langkahku meringan. Tanpa perlu berkata-kata lagi, aku dapat melihat perbedaan tatapan itu, aku bisa merasakan leganya air wajah itu, dan aku menangkap luwesnya gerak gerik itu. Kali ini kabut keraguan itu tidak ada lagi, kali ini abu-abu tidak nampak lagi. Sekarang tidak ada lagi aku atau kamu, yang ada adalah kita.


-Jessica Johanna
Recognize and realize, move bit just a little fast.. And then here we are again, baby :')






Sunday, April 8, 2012

Cerita Hari Ini

Hari ini, gue belajar.. Hari ini gue melihat. Hari ini gue mendengar. Hari ini gue menemukan. Kali ini benar-benar hanya sekedar. Kali ini gue tertampar. Kali ini no offense no defense. Gue ketemu pada saat dimana gue bener-bener ga siap. Mungkin bukan jatah gue hari ini untuk lari. Bukan juga jatah gue untuk menghindar. Bukan jatah gue untuk siap, bukan jatah gue untuk cukup masang kuda-kuda, bukan jatah gue untuk nolak.
Tapi kali ini, ga bisa gue tahan lagi.

Gue nemu sekarang. Dan gue bersyukur. Gue ga nyesel sama yang udah-udah. Gue rasa itu tabungan gue buat hari-hari besok yang bakal gue temuin. Gue berharap itu semua bisa nolong gue ketika gue nemuin suatu kesulitan. Gue ga bisa menggambarkan bagaimana rasanya. Gue cuma bisa bilang, itu semua cukup.

Hari ini gue belajar untuk tetap tenang. Belajar untuk mengontrol. Belajar untuk menerima. Belajar untuk sabar. Belajar untuk tidak mengelak. Dan gue belajar untuk menguatkan diri gue sendiri. Gue belajar untuk mengendalikan. Gue belajar untuk tetap merasakan kedamaian dalam diri gue sendiri biarpun dari luar gue diserang.. Diserang secara halus dan sembunyi-sembunyi. Dan gue belajar, diam terkadang adalah cara terbaik buat bikin orang lain jadi mikir. Dan diam, ampuh banget bikin semua netral lagi.

Dan cukup. Gue ga mau nyerang balik. Mungkin terkadang salah ya kalo kita terlalu baik sama orang. Jadinya malah di manfaatin. Tapi gue ga peduli. Bahkan ketika mata gue melihat itu, hati gue masih aja bilang nggak! Hati memang memiliki logika yang tidak mampu di pahami akal pikiran. 

Bokap selalu bilang, okelah kalo kamu ga bisa berbuat baik sama orang, paling nggak kamu jangan jahat sama orang.

Dan pada saat lo ikhlas, di situlah lo ngerasain, nggak ada tu yang namanya sia-sia, nggak ada yang namanya percuma, dan nggak ada tu yang namanya penyesalan. Yang ada, mau orang memperlakukan lo kayak apa juga, lo bakal nerima, lo ga nyerang balik, lo ga bakal peduli tu mau tu orang ngejahatin lo kayak apa juga! dan lo bisa berdamai dengan diri lo sendiri dan lo akan ngerasain pada saat lo bisa menguasai dan mengendalikan ego lo, disitulah kemenangan lo, kemenangan lo terhadap diri lo sendiri! Di situlah kualitas lo di uji, sebagai pribadi dari seorang manusia!



Who would have known how bittersweet this would taste?
Hari ini cukup memberi arti, bahwa gue harus bisa lebih berhati-hati


Tuesday, April 3, 2012

CUKUP

Ku akhiri lakon ini
Tersadar pula selama ini
Sekedar hanya sekedar
Kata-kata sebatas tenggorokan
Dan tampilan hanya sebatas polesan
Dalam memang mungkin
Tetapi cukup adalah cukup
Bukan kamu, tapi aku!
Cukuplah tersimpan..
Batas rasa yang tak berlogika


-Jessica Johanna

PSIKOSOMATIS

Jakarta, Psikologi Zone – Psikosomatis merupakan gangguan psikis yang mampu menyebabkan gangguan dalam bentuk fisik. Orang yang mengeluhkan kondisi fisik, namun setelah dilakukan pemerikasaan medis tidak ditemui penyebab fisiologis. Pemicu sebenarnya adalah stres dan depresi yang tidak disadari.
“Secara umum, sebenarnya semua penyakit adalah psikosomatis. Artinya, setiap penyakit memiliki pendekatan psikosomatis atau sering dikenal sebagai biopsikososial,” ungkap Dr Andri, SpKJ, Pengajar Psikiatri di Fakultas Kedokteran UKRIDA, Sabtu (31/3).

Setiap penyakit memiliki sisi biologi, psikologi dan sosial. Penderita yang pernah mengalami penyakit stroke, rentang mengalami depresi, namun depresi itu sendiri bisa kembali menyebabkan stroke. Siklus ini akan tetap ada sepanjang seseorang tidak bisa mengontrol kondisi psikis.

“Kasus ini sering dialami dan terjadi juga pada keluarga saya. Om saya mengalami gejala depresi setelah kena stroke sehingga terkena stroke lagi dan akhirnya meninggal saat kena stroke yang kedua. Jadi, kami melihat gangguan jiwa itu sangat erat hubungannya dengan gangguan fisik,” kata dr Andri.
Sampai saat ini masih belum ada dokter atau pasien yang menyadari akan adanya pengaruh kondisi kejiwaan dengan munculnya penyakit medis.

Dr Andri bercerita pernah menangani pasien yang sudah 5 tahun mengalami gejala psikosomatis, namun keluhan itu berpindah-pindah, dari jantung, paru-paru dan seterusnya. Pengobatan medis dilakukan hingga ke luar negeri, namun tidak ditemui penyebab fisiologis. Ternyata, penyebab keluhan fisik tersebut diketahui dari kondisi kejiwaan yang terganggu.

“Dasar gangguan psikosomatis itu kan depresi dan cemas. Akhirnya pasien tahu kalau sistem otak kacau, maka pikiran, perasaan dan perilaku juga ikut ngaco. Sistem otak kacau karena disebabkan stres, stres itu disebabkan lingkungan dan genetik. Gangguan ini berputar-putar dan kita harus memotong siklus itu,” papar dr Andri. (dtk/mba)

Sumber : http://www.psikologizone.com/psikosomatis-gangguan-psikis-pengaruhi-kesehatan-fisik/065116000

Wednesday, March 21, 2012

Di sela-sela ngantuknya pagi tadi

Pagi tadi tu beda banget. Entah kenapa bangun-bangun gue ngerasa ngantuk, ngantuuk, ngantuuuuk dan NGANTUUUUK!! Shubuhan gue merem-merem, makan sambil merem, di angkot pun merem-merem. Pokoknya judul tadi pagi tu merem-merem deh! Merem gue sedikit melek karena gue ngeh jalanan tadi pagi ga begitu padat dan gue bisa sampe kampus jam 8 kurang... hmmmm yaaa, gue rasa baru tadi pagi deh gue sampe kampus sebegitu awalnya, hahahaha :D

Sampe di kelas, ternyata ngantuk gue nagih.. Sumpah ganggu banget yaaa, secara minggu kemaren gue ketinggalan satu materi karena gue ke Magelang dan pagi tadi gue harap otak, pikiran dan mata gue 'on' untuk ngeh sama bahan kuliah, eeeh ga taunya layu banget malah tadi pagi!

Sambil sok serius ndengerin dosen gue njelasin materi, gue beneran berusaha buat mahamin and nyatet apa yang di jelasin dosen gue di kertas fotokopian..

Daaaan, kebetulan kelas gue tadi tu jendelaan terbuka gitu langsung bisa ngeliat ke luar tanpa penghalang apapun. Seperti mahasiswa pada umumnya, bosen, gue mulai ngerubah-rubah posisi duduk jadi merosot sembari nyuri-nyuri ngobrol sama temen gue dengan nempatin posisi kepala gue satu garis lurus dengan temen yang duduk didepan gue biar ga kegep-kegep amat kalo gue malah ngobrol pas doi nerangin materi..

Tau sendiri kan beberapa hari ini angin emang lagi kenceng-kencengnya.. Lagi bosen gitu tadi, gue memalingkan muka gue ke arah luar, dan betapa gue senengnya merhatiin gerak daun yang ketiup angin, dan awan yang bergerak perlahan-lahan.. Gue juga pandangin lalu lalang kendaraan yang lewat di seberang sana.

Gue perhatiin, betapa cantiknya tarian daun dan ranting-ranting yang bergoyang ketiup angin.. Betapa beragamnya bentuk awan kalo kita mau merhatiin.. Betapa cantiknya langit biru di atas sana. Dan, gue keinget pelajaran geografi pas SMA kemaren, bahwa awan itu berbeda-beda bentuknya sesuai ketinggiannya.. Kalo kalian iseng ngebaca blog ini, kalian bisa liat post-an gue yang ngebahas tentang awan. Dari situ gue mikir aja, betapa banyak kecantikan-kecantikan yang ada dan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari dari hal-hal kecil yang kadang sama sekali ga kita perhatiin. Dan gue bersyukur.. Gue bersyukur mata dan hati gue masih bisa nangkep keindahan besar dari hal-hal kecil yang sederhana yang gue temuin sehari-hari. Allahuakbar banget deh pokoknya :)

Monday, March 19, 2012

Perang, Kesehatan Mental dan Prestasi Akademis Anak-anak Palestina


Saat ini telah lebih dari 6 dekade sejak awal pendudukan Israel terhadap Palestina. Sejak saat itu, orang-orang Palestina hidup di bawah peperangan dan kekerasan politik serta militer yang tinggi. Ribuan rakyat Palestina terbunuh dan menderita luka serius, dan ratusan ribu telah terusir dari tanah kelahirannya. Semua aspek kehidupan rakyat Palestina termasuk kesehatan, pendidikan, dan ekonomi terdampak akibat pendudukan ini. Tidak diragukan bahwa konflik militer yang berkepanjangan dan terus terjadi ini telah mempengaruhi kesehatan mental seluruh rakyat.

Seperti pada sebagian besar kasus, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak oleh konflik dan peperangan. Kejadian langsung terhadap konflik dan pendudukan dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka. Perang juga akan secara tidak langsung mempengaruhi anak-anak seperti hal nya kesehatan mental bagi siapa pun yang secara langsung berhubungan dengan mereka, khususnya pengasuh mereka (orangtua dan guru) yang secara potensial berdampak pada kualitas mereka dalam berinteraksi. Tumbuh di bawah kondisi kehidupan yang penuh tekanan dan secara potensial terancam dapat menciptakan hambatan bagi perkembangan anak yang mengarah pada tantangan masa depannya baik di tingkat individu, keluarga dan masyarakat.

Masalah kesehatan mental (masalah emosional dan perilaku) banyak anak-anak Palestina berkembang karena paparan konflik dan perang yang berkelanjutan dapat menjadi tipe yang eksternalis dan/atau yang internalis:
Masalah Eksternalisasi ditandai oleh perilaku yang terang-terangan yang kelihatan mengarah pada orang lain termasuk kesulitan dengan perhatian, perilaku agresif dan mengganggu orang lain serta dalam mematuhi aturan dan peraturan. Anak-anak ini sering terlihat kurang mengontrol diri.

Masalah Internalisasi ditandai oleh perilaku yang terpusat pada diri sendiri dan tersembunyi yang melibatkan penghindaran/penarikan diri, ketakutan yang berlebih, kecemasan dan depresi.
Masalah kesehatan mental yang lebih spesifik yang berkembang dalam diri anak-anak sebagai akibat dari paparan terhadap peperangan dan kekerasan militer yang terus menerus dinamakan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Anak-anak dengan PTSD menunjukkan gejala berulang-ulang seperti gambaran dan mimpi buruk dari kejadian traumatis yang pada awalnya memicu kondisi tersebut, penghindaran dari situasi dan tempat yang mengingatkan kejadian, dan meningkatkan kecemasan yang berwujud pada masalah dengan konsentrasi dan tidur. Sebagai konsekuensi, PTSD mengarah pada kesulitan atau kelemahan dalam fungsi sosial, yang berhubungan dengan pekerjaan atau area fungsional penting lainnya.

Masalah kesehatan mental yang diderita oleh Anak-anak Palestina akibat dari beberapa paparan terhadap peperangan dan kekerasan yang berkelanjutan dapat mengganggu kompetensi kognitif dan tingkah laku mereka (perkembangan sumber daya) termasuk: perhatian, konsentrasi dan daya ingat yang kesemuanya adalah dasar bagi pembelajaran dan pencapaian akademis. Kompetensi kognitif dan perilaku mereka menjadi penuh dengan penderitaan mereka dan digunakan untuk berjuang dan bertahan melawan penderitaan mereka daripada pertumbuhan dan kecakapan pengembangan tugas-tugas.

Proses disfungsional ini mengarah pada terhambatnya keterlibatan efektif anak dalam proses belajar sebagai akibatnya mereka tidak akan dapat mencapai sesuai dengan potensi intelektual mereka. Prestasi mereka yang rendah di sekolah pada gilirannya akan memberikan cerminan yang buruk terhadap rasa percaya diri, motivasi dan minat mereka. Selanjutnya akan menyebabkan kerusakan dalam hal prestasi akademis dan kesehatan mental mereka. Dengan kurangnya perhatian dan intervensi khusus, kepribadian, tingkah laku dan sumber daya kognitif dari banyak anak ini akan terus dipenuhi oleh trauma dan dijadikan untuk melindungi harga diri mereka yang tersisa dan berjuang melawan penderitaan mental mereka daripada dalam hal pelajaran dan prestasi akademis. Hal ini bertahap, akan mengarah pada penarikan mental mereka dari kegiatan akademis sekolah bahkan ketika mereka secara fisik hadir di dalam kelas.

Anak-anak dengan masalah kesehatan mental tidak tersingkirkan dari sekolah-sekolah di Palestina yang berarti positif dan sejalan dengan pergerakan menuju akses pada kualitas Pendidikan untuk Semua (PUS). Namun, penyertaan mereka di sekolah umum bukan disengaja tapi lebih karena rendahnya pengetahuan akan masalah kesehatan mental oleh sistem sekolah dan kurangnya kesadaran akan pentingnya isyu kesehatan mental dan mereka dapat mempengaruhi prestasi akademis anak pada tingkatan yang sama dengan masalah kesehatan fisik (dan bahkan mungkin lebih). Meskipun secara fisik “inklusi” mereka positif, rendahnya pengenalan awal masalah kesehatan mental berlanjut untuk mencabut anak dari intervensi yang efektif. Hal ini tidak berarti bahwa sistem pendidikan tidak menyediakan pelayanan bagi anak-anak dengan masalah kesehatan mental tapi lebih pada program-program konseling yang ada tidak mengarah pada kebutuhan mereka secara efektif.

Walaupun hampir seluruh anak Palestina secara terus-menerus mengahadapi masalah peperangan, kekerasan dan pendudukan, banyak yang tidak mengalami masalah kesehatan mental yang serius atau PTSD dan masih dapat berfungsi dan berprestasi di sekolah sesuai dengan kemampuan intelektual mereka. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan seperti ini bukan menjadi satu acuan saja bagi perkembangan masalah kesehatan mental atau PTSD. Kemudian pertanyaannya adalah mengapa kondisi seperti ini beberapa anak mengalami masalah kesehatan mental dan menderita secara intensif pada pencapaian akademis yang berada di bawah kemampuan mental mereka, sementara yang lainnya tetap bertahan dan dapat pulih dalam beberapa minggu dan melanjutkan sekolah mereka dengan baik?

Dalam menjawab pertanyaan ini dan mengerti lebih tentang kedinamisan ini, kita harus memperhitungkan faktor-faktor personal dan dari luar dariserta faktor lingkungan yang mungkin memainkan peranan dalam menentukan dampak dari kekerasan militer pada kesehatan mental anak. Faktor-faktor ini dapat memiliki dampak yang melindungi atau pun menghasilkan sebuah resiko tambahan bagi kemungkinan perkembangan masalah kesehatan mental yang terus-menerus atau PTSD setelah pengalaman mereka terhadap trauma atau kekerasan militer.

Faktor-faktor personal yang mungkin melindungi kesehatan mental seorang anak adalah kekuatan individu dan sumber daya yang dikembangkan selama tahun-tahun awal kehidupan mereka melalui interaksi yang dinamis dengan lingkungan sekitar mereka. Kekuatan ini, seperti halnya rasa percaya diri, keberhasilan diri, pengendalian diri dan sistem kepercayaan dan nilai yang sehat, membantu anak untuk mengatur dirinya setelah mengalami suatu kejadian untuk menarik dan memperbaiki keseimbangan antara dirinya dan lingkungan dalam waktu yang singkat dan sebelum kerusakan lainnya mempengaruhi kesehatan mentalnya. Anak-anak dengan perkembangan sumber daya yang rendah akan menjadi lebih rentan dan membuat diri mereka kurang dapat mengendalikan diri atau mencapai keseimbangan dalam diri mereka yang akan mempengaruhi kesehatan mental mereka, khususnya jika mereka juga kurang mendapat dukungan dari pengasuh mereka.

Faktor penentu dari luar adalah sistem dukungan sosial dalam lingkungan yang dekat dengan si anak. Di sini kita membicarakan tentang keluarga dan sekolah sebagai seting yang berpengaruh erat dan paling penting. Mutu dari hubungan sosial antara anak dan lingkungan sekitar yang dekat dengannya, termasuk: orangtua; saudara kandung; keluarga; guru, dan; teman sebaya, dapat memediasi antara kejadian kekerasan dan kesehatan mental anak. Hubungan sosial yang berkualitas tinggi antara anak dan orang lain ditandai oleh keramahan, pengertian, rasa nyaman, dukungan, dorongan semangat dan penerimaan yang dapat menahan atau melawan dampak negatif dari kekerasan atau trauma pada kesehatan mental anak. Hal ini membantu anak untuk mencurahkan kompetensi kognitif dan perilakunya menuju pada pencapaian pengembangan tugas, seperti dalam belajar dan prestasi sekolah.

Di sisi lain, kualitas hubungan sosial yang buruk ditandai oleh kekerasan, pengabaian, penolakkan, keputusasaan, dan hukuman bukan hanya mengeluarkan anak dari sumber daya pelindung yang penting tapi juga menciptakan tambahan resiko bagi kesehatan mentalnya.
Anak-anak Palestina yang memiliki kesehatan mental yang baik meskipun terus menerus mengalami kekerasan dan ancaman militer, mereka menikmati hubungan sosial yang efektif dan mendukung baik di rumah dan di sekolah.

Sebagai bukti, kualitas perkembangan sumber daya anak dan keefektifan sistem pendukung sosial mereka, memainkan peran utama dalam perbedaan status kesehatan mental dari anak-anak yang mengalami kekerasan militer yang sama. Konsekuensinya, mengarah pada perbedaan dalam pencapaian akademis mereka. Dengan demikian, untuk melindungi kesehatan mental anak-anak Palestina dan meningkatkan prestasi akademis mereka, penerapan pendidikan inklusif di sekolah sebaiknya tidak hanya terbatas pada penyesuaian kurikulum, metode pengajaran, bahan pelajaran, dan/atau ujian. Hal ini juga menanggapi kebutuhan individual yang spesifik dari anak-anak yang rentan ini melalui pemeliharaan pengembangan sumber daya dan kekuatan mereka serta memperkenalkan keefektifan dari sistem sosial yang berhubungan dengan si anak. Hal ini dapat diterapkan dengan menciptakan lingkungan sekolah yang aman, peduli, mendukung, memberi semangat dan menerima yang memudahkan anak untuk mengolah pengalaman stress dengan sukses. Lingkungan seperti ini akan membantu kesiapan mereka untuk belajar.

Dalam konteks ini, staf sekolah mungkin membutuhkan pelatihan tambahan tentang bagaimana kualitas interaksi mereka dengan anak-anak dapat meningkatkan perkembangan sumber daya mereka, dan mereka perlu untuk peka tentang bagaimana hal ini dapat melindungi kesehatan mental anak-anak. Sebagai tambahan, ketrampilan para guru tentang bagaimana untuk bertindak dan berinteraksi dengan anak-anak di bawah situasi darurat seharusnya ditingkatkan. Karena hubungan sosial dengan teman sebaya adalah faktor pelindung penting, para guru perlu untuk menciptakan lingkungan dan kondisi yang meningkatkan kegiatan rekreasional yang memperkuat hubungan sosial dengan teman sebaya di antara anak-anak. Dalam bidang pendidikan inklusif, peran guru juga diperluas dengan memberi kepekaan para orangtua tentang praktek efektif terhadap perkembangan anak di bawah kondisi darurat, pendudukan dan peperangan, khususnya bagaimana untuk bersikap pada anak setelah mengalami kekerasan militer. Selain itu, para orangtua haruslah peka tentang betapa pentingnya suasana keluarga yang hangat, kompak, berpengertian, saling bekerja sama dan tanggap dalam melindungi kesehatan mental anak merela dari dampak kekerasan militer. Terakhir dan yang terpenting, kekerasan militer dan pendudukan haruslah diakhiri sehingga generasi baru dapat menikmati kesehatan mental yang baik dan dapat mengembangkan potensi mereka hingga maksimal.

Usulan Perubahan Kriteria DSM-V untuk Penyandang Autis

Arlington, Psikologi Zone – American Psychiatric Association (APA) telah mengusulkan kriteria diagnostik baru dalam edisi kelima dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) untuk penyandang autis. Hal ini disampaikan dalam rilis resmi dari APA, Jum’at (19/1/2012). Sementara keputusan akhir masih satu bulan lagi, rekomendasi ini merupakan hasil penelitian dan didukung lebih dari satu dekade yang intensif dan analisis.


DSM adalah manual yang digunakan oleh dokter dan peneliti untuk mendiagnosa dan mengklasifikasikan gangguan mental. American Psychiatric Association (APA) akan menerbitkan DSM-V pada tahun 2013, yang merupakan proses revisi selama 14 tahun.

Usulan oleh DSM-5 Neurodevelopmental Work Group merekomendasikan sebuah kategori baru yang disebut autism spectrum disorder. Kategori ini akan menggabungkan beberapa diagnosa yang sebelumnya terpisah, termasuk autis, gangguan Asperger, gangguan disintegrasi masa kanak-kanak dan gangguan perkembangan pervasif.

Proposal tersebut menegaskan bahwa gejala pada keempat gangguan tersebut merupakan kontinum dari ringan sampai berat, bukan diagnosis sederhana yang terpisah untuk gangguan tertentu. Kriteria diagnostik yang diusulkan untuk autism spectrum disorder menentukan tingkat keparahan dan menggambarkan status perkembangan individu secara keseluruhan, terutama dalam komunikasi sosial dan kognitif juga perilaku motorik.

Dr. James Scully, Direktur Medis dari American Psychiatric Association mengatakan, “Kriteria yang diusulkan akan mengakibatkan diagnosis yang lebih akurat dan akan membantu dokter dan terapis merancang intervensi pengobatan yang lebih baik bagi anak-anak yang menderita autism spectrum disorder.”
Draft kriteria DSM-V akan memberikan penilaian dimensi yang lebih bermanfaat untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas kriteria. Perubahan ini akan membantu dokter lebih akurat mendiagnosis orang dengan gejala dan perilaku yang relevan.

Usulan kriteria DSM-V ini tidak akan merubah jumlah pasien autism spectrum disorder yang saat ini menerima perawatan di pusat pengobatan. Diagnosis baru ini akan membantu untuk mengarahkan pada pengobatan yang lebih terfokus.(mba)