JEJE'SAREA
Saturday, May 4, 2013
LOGO TERAPI
A. Pengertian
Logoterapi
secara bahasa berasal dari kata logos dari
bahasa Yunani yang berarti “makna”. Logoterapi dapat dikatakan sebagai upaya
eksistensial untuk menjalani kehidupan secara sehat melalui makna-makna
kehidupan dari pribadi atau diri manusia. Keinginan mencari makna hidup
merupakan dasar utama dari aliran psikologi legoterapi. Legoterapi dikembangkan dan divalidasi oleh Victor Frankl
telah dikenal sebagai “Aliran Wina ketiga” setelah Freud dan Adler. Tiga asas utama dalam logoterapi adalah : Hidup itu
memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan
kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar,
berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak
dijadikan tujuan hidup.
Setiap manusia memiliki kebebasan – yang hampir tidak terbatas –
untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna
atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif
atupun makna yang negatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.
Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap
peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri
dan lingkungan sekitar. Contoh yang jelas adalah seperti kisah Imam Ali
diatas, ia jelas-jelas mendapatkan musibah yang tragis, tapi ia mampu memaknai
apa yang terjadi secara positif sehingga walaupun dalam keadaan yang seperti
itu Imam tetap bahagia.
Logoterapi merupakan salah satu metode konseling dimana pasien dibantu
untuk menemukan nilai-nilai baru dan mengembangkan filosofi konstruktif dalam
kehidupannya. Oleh karena itu, seorang logoterapis tidaklah mengobati
gejala-gejala yang tampak pada klien secara langsung, akan tetapi mengadakan
perubahan sikap neurotik pasien terlebih dahulu. Pasien bertanggung jawab pada
dirinya sendiri dan logoterapis memberikan dorongan untuk memilih, mencari, dan
menemukan sendiri maksa konkrit dari eksistensi pribadinya. Seorang logoterapis
membantu klien untuk menyusun tiga macam niallai yang akan memberi arti pada
eksistensi, yaitu :
1. Creative
Values (nilai-nilai kreatif)
Nilai-nilai ini tercerminkan dari
kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban
sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab.
2. Experiential Values (nilai-nilai penghayatan)
Nilai-nilai ini tercermin dari
keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan,
keimanan, dan keagamaan, serta cinta kasih.
3. Attitudinal
Values (nilai-nilai bersikap)
Nilai-nilai ini tercermin dari
menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keberanian segala bentuk
penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi.
B. Landasan Utama Logoterapi
Logoterapi mempunyai tiga landasan filsafat, yakni :
1. The freedom of will:
kebebasan tetapi terbatas, bukan kebebasan dari sesuatu tetapi kebebasan
mengambil sikap terhadap sesuatu. Kebebasan yang dimaksud di sini adalah
kebebasan yang bertanggungjawab.
2. The will to meaning :
merupakan motivasi dasar manusia. Yang dimaksudkan dengan keinginan untuk
bermakna adalah : tertuju kepada hal-hal yang berada di luar diri manusia
tersebut, bukan berpusat pada diri sendiri (self-centered)
3. The meaning of life :
dapat ditemukan oleh manusia dalam kehidupannya, termasuk pada saat mengalami
penderitaan (rasa bersalah, sakit, kematian). Makna hidup setiap orang sifatnya
unik, personal, spesifik, dan temporer. Makna hidup tidak dapat diberikan oleh
siapapun, jadi harus ditemukan oleh diri sendiri.
C. Eksistensi
manusia menurut Logoterapi ditandai oleh :
1. Spiritualitas.
Spiritualitas adalah suatu konsep
yang sulit dirumuskan, tidak dapat direduksikan, tidak dapat diterangkan dengan
istilah-istilah material, meskipun dapat dipengaruhi oleh dunia material, namun
tidak dihasilkan atau disebabkan oleh dunia material itu
2. Kebebasan.
Adanya suatu keadaan dimana manusia
tidak didikte oleh faktor-faktor non spiritual, insting, warisan kita yang
khusus atau kondisi lingkungan.
3. Tanggung jawab.
Tidak cukup merasa bebas untuk memilih namun
manusia juga harus menerima tanggung jawab terhadap pilihan tersebut.
Logotherapy mengingatkan manusia terhadap tanggung jawab dengan kalimat
berikut, “Hiduplah seolah-olah anda hidup untuk kedua kalinya, dan bertindak
salah untuk pertama kalinya kira-kira demikian anda bertindak sekarang.”
D. Tujuan Legoterapi
Logoterapi mempunyai beberapa tujuan, diantaranya adalah agar tiap-tiap
pribadi :
1. memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal
ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya
2. menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan
diabaikan bahkan terlupakan
3. memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan
untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar
mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Sumber :
http://bk2099.files.wordpress.com/2010/victor-frankl.ppt
Sunday, April 28, 2013
BEHAVIOR THERAPY
A.
Pengertian
Pendekatan
terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa
perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang
melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical
conditioning” atau “associative learning”.
Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
Berbagai metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavior therapy adalah Exposure and Respon Prevention (ERP), Systematic Desensitization, Behavior Modification, Flooding, Operant Conditioning, Observational Learning, Contingency Management, Matching Law, Habit Reversal Training (HRT) dan lain sebagainya.
Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
Berbagai metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavior therapy adalah Exposure and Respon Prevention (ERP), Systematic Desensitization, Behavior Modification, Flooding, Operant Conditioning, Observational Learning, Contingency Management, Matching Law, Habit Reversal Training (HRT) dan lain sebagainya.
Konsep dasar
yang dipakai oleh Behavior Therapy adalah belajar. Belajar yang dimaksud adalah
perubahan tingkah laku yang disebabkan bukan karena kematangan. Teori Belajar
yang dipakai dalam pendekatan ini sebagai aplikasi dari percobaan-percobaan
tingkah laku dalaam laboratorium.
Manusia
merupakan mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari
luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap
lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian
membentuk kepribadian. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan
macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.
B.
Karakteristik Konseling Behavior
Adapun karakteristik konseling behavioral adalah :
1. Berfokus
pada tingkah laku yang tampak dan spesifik
2. Memerlukan
kecermatan dalam perumusan tujuan konseling
3. Mengembangkan
prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien
4. Penilaian
yang obyektif terhadap tujuan konseling.
C.
Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral
1. Memodifikasi
tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar klien terdorong untuk merubah
tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan
dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku
klien.
2. Mengurangi
frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan.
3. Memberikan
penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan
tingkah laku yang tidak diinginkan.
4. Mengkondisikan
pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape
recorder, atau contoh nyata langsung).
5. Merencanakan
prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan
sistem kontrak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi
maupun keuntungan sosial.
D.
Teknik-teknik Konseling Behavioral
1.
Latihan Asertif
Teknik ini
digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri
bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di
antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan
tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon
posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan
bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam
latihan asertif ini.
2.
Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi
sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan
untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan
klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang
diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah
laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang
tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi
sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus
tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia
menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan
dihilangkan.
3.
Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat
digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk
meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang
disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak
menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan
munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini
diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan
stimulus yang tidak menyenangkan.
4.
Pembentukan Tingkah laku Model
Teknik ini
dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat
tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada
klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik,
model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang
hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari
konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.
5.
Covert Sensitization
Teknik ini
dapat digunakan untuk merawat tingkah laku yang menyenangkan klien tapi
menyimpang, seperti homosex, alcoholism. Caranya: Belajar rileks dan diminta
membayangkan tingkah laku yang disenangi itu. Kemudian di saat itu diminta
membayangkan sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya. Misalnya, seorang
peminum, sambil rileks diminta untuk membayangkan minuman keras. Di saat gelas
hamper menyentuh bibirnya, diminta untuk membayangkan rasa muak dan ingin
muntah. Hal ini diminta berulangkali dilakukan, hingga hilang tingkah laku peminumnya.
6.
Thought Stopping
Teknik ini
dapat digunakan untuk klien yang sangat cemas. Caranya klien disuruh menutup
matanya dan membayangkan dirinya sedang mengatakan sesuatu yang mengganggu
dirinya, misalnya membayangkan dirinya berkata “saya jahat!”. Jika klien
memberi tanda sedang membayangkan yang dicemaskannya (ia berkata pada dirinya:
“saya jahat!”), terpis segera berteriak dengan nyaring : “berhenti!”. Pikiran
yang tidak karuan itu segera diganti oleh teriakan terapis. Klien diminta
berulang kali melakukan latihan ini, hingga dirinya sendiri sanggup
menghentikan pikiran yang mengganggunya itu.
Sumber :
http://www.psikoterapis.com/?en_metode-psikoterapi-yang-dipakai%2C16
http://bk-upy.com/behavior-therapy/
RATIONAL EMOTIVE THERAPY
A.
Pengertian RET
Rational Emotive
Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun
1960-an oleh Albert Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik
yang juga seorang eksistensialis sekaligus seorang Neo Freudian. Menurut Ellis RET
merupakan terapi yang sangat komprehensif, yang menangani masalah-masalah yang
berhubungan dengan emosi, kognisi, dan perilaku.
Asumsi dasar dari terapi ini adalah bahwa manusia memiliki potensi positif dan negatif. Asumsi positif itu meliputi mampu berpikir secara rasional, mampu berbahasa, mampu mencintai, mampu berkomunikasi dan mampu beraktualisasi. Sedangkan asumsi negatif dari terapi ini adalah bahwa manusia dapat berfikir irasional, tidak mau berpikir, merusak diri, suka menunda, mengulang kesalahan, tidak toleransi dan perfeksionis.
Asumsi dasar dari terapi ini adalah bahwa manusia memiliki potensi positif dan negatif. Asumsi positif itu meliputi mampu berpikir secara rasional, mampu berbahasa, mampu mencintai, mampu berkomunikasi dan mampu beraktualisasi. Sedangkan asumsi negatif dari terapi ini adalah bahwa manusia dapat berfikir irasional, tidak mau berpikir, merusak diri, suka menunda, mengulang kesalahan, tidak toleransi dan perfeksionis.
Manusia adalah
subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya.
Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu dalam satu
kesatuan yang berarti manusia bebas, berpikir, bernafas, dan berkehendak Teori ini menekankan bahwa suatu perubahan yang
mendalam terhadap cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam
cara berperasaan dan berperilaku.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang
kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga
pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief
(B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal
dengan konsep atau teori ABC.
1.
Antecedent event (A) yaitu segenap
peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang
berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu
keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan
antecendent event bagi seseorang.
2.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan,
nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan
seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau
rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan
yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk
akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak
rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak
masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
3.
Emotional consequence (C) merupakan
konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan
senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A).
Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh
beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang
iB.
Selain
itu, Ellis juga menambahkan D, E dan F untuk rumus ABC ini. Seorang terapis
harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya
bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan
yang rasional. Sehingga
lahir perasaan(feelings; F) yaitu perangkat perasaan yang baru, dengan demikian
kita tidak akan merasa tertekan, melainkan kita akan merasakan segala sesuatu
sesuai dengan situasi yang ada. Teori pendekatan DEF dari ellis jika
digambarkan dalam bentuk bagan adalah demikian: D (disputing
intervention) E (effect) F (new Feeling).
B. Peran Terapis
Peran terapis dalam
metode RET adalah :dalam terapi ini adalah sebagai berikut :
1.
Aktif, yaitu berbicara,
mengkonfrontasikan (yang irrasional), menafsirkan, menyerang falsafah yang
menyalahkan diri
2.
Direktif, yaitu
menerangkan ketidakrasionalan yang dialami dan yang ditunjukkan oleh klien baik
berupa tingkah laku verbal, maupun sikapnya yang terlihat, juga mengajari klien
untuk menggunakan metode-metode perilaku misalnya desentisasi dan latihan
asertif.
C. Tujuan RET
Tujuan dari
terapi ini adalah :
1. Memperbaiki
dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan
klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis
agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan sel-actualizationnya
seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.
2. Menghilangkan
gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa
bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
Sumber :
Monday, April 22, 2013
ANALISIS TRANSAKSIONAL
A.
Pengertian Analisis Transaksional
Sumber :
http://id.scribd.com/doc/97424921/Analisis-transaksional-makalah
http://www.vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=82:pendekatan-konseling-analisis-transaksional&catid=1:latest-news
http://counselingcare.blogspot.com/2012/06/konseling-analisis-transaksional.html
Analisis Transaksional adalah salah
satu pendekatan psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional.
Analisis Transaksional dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi
terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek
perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi
dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya
keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan
kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna
kemajuan hidupnya sendiri.
Teori
analisis transaksional merupakan karya besar Eric Berne (1964), yang ditulisnya dalam buku Games People Play Berne
adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Teori analisis
transaksional merupakan teori terapi yang sangat populer dan digunakan dalam
konsultasi pada hampir semua bidang ilmu-ilmu perilaku. Teori analisis
transaksional telah menjadi salah satu teori komunikasi antarpribadi yang
mendasar. Analisis Transaksional berakar dalam suatu filsafat anti
deterministik yang memandang bahwa kehidupan manusia bukanlah suatu yang sudah
ditentukan. Analisis Transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa
orang mampu memahami keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat
memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah
pernah diambil. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama
untuk pendekatan kelompok.
Analisis Transaksional (AT) lebih menekankan
pada aspek kognitif, rasional dan behavioral tentang kepribadian serta
berorientasi pada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat
keputusan-keputusan dan rencana baru bagi kehidupannya. Secara keseluruhan
dasar filosofis Analisis Transaksional bermula dari asumsi bahwa semuanya baik artinya
bahwa setiap perilaku individu mempunyai dasar menyenangkan dan mempunyai potensi
serta keinginan untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri.
Kata transaksi selalu mengacu pada proses
pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun dikenal
transaksi, yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal.
Analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam
proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang
dipertukarkan).
Dalam mengembangkan pendekatan ini Eric
Berne menggunakan berbagai bentuk permainan antar orang tua, orang dewasa, dan
anak. Dalam eksperimen yang dilakukan Berne mencoba meneliti dan menjelaskan
bagaimana status ego anak, orang dewasa, dan orang tua dalam interaksi satu
sama lain, serta bagaimana gejala hubungan interpersonal ini muncul dalam
berbagai bidang kehidupan seperti misalnya dalam keluarga, dalam pekerjaan,
dalam sekolah, dan sebagainya.
B.
Pandangan Tentang Manusia
Pandangan analisis transaksional
tentang hakekat manusia ialah pada dasarnya manusia mempunyai keinginan atau
dorongan-dorongan untuk memperoleh sentuhan atau “stroke”. Sentuhan ini ada
yang bersifat jasmaniah dan rohaniah serta yang berbentuk verbal dan fisik.
Yang menjadi keperibadian seseorang ialah bagaimana individu memperoleh
sentuhan melalaui transaksi. Penampilan kepribadian seseorang terbentuk dari
naskah hidup seseorang yang telah terbentuk sejak usia muda.
Analisis
transaksional meyakini pada diri individu terdapat unsur-unsur
kepribadian yang terstruktur dan itu merupakan satu kesatuan yang disebut
dengan “ego state”. Adapun unsur kepribadian itu terdiri dari:
1. Ego state
child
Pernyataan ego dengan ciri
kepribadian anak-anak seperti bersifat manja, riang, lincah dan rewel. Tiga
bagian dari ego state child ini ialah:
a) Adapted child
(kekanak-kanakan)
Unsur ini kurang baik ditampilkan
saat komunikasi karena banyak orang tidak menyukai dan hal ini menujukkan
ketidak matangan dalam sentuhan.
b) Natural child
(anak yang alamiah)
Natural child ini banyak
disenangi oleh orang lain karena sifatnya yang alamiah dan tidak dibuat-buat
serta tidak berpura-pura, dan kebanyakan orang senang pada saat terjadinya
transaksi.
c) Little
professor
Unsur ini ditampilkan
oleh seseorang untuk membuat suasana riang gembira dan menyenangkan padahal
apapun yang dilakukannya itu tidaklah menunjukkan kebenaran.
2. Ego state
parent
Ciri kepribadian yang diwarnai oleh
siafat banyak menasehati, memerintah dan menunjukkan kekuasaannya. Ego state
parent ini terbagi dua yaitu:
a) Critical
parent
Bagian ini dinilai sebagai bagian
kepriadian yang kurang baik, seperti menujukkan sifat judes, cerewet, dll.
b) Nurturing parent
Penampilan ego state seperti ini baik
seperti merawat dan lain sebagianya.
3. Ego state
adult
Berorientasi kepada fakta
dan selalu diwarnai pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana.
Dengan demikian untuk kita ketahui bahwa dalam tiap individu ego state yang tiga diatas berbeda-beda
kadarnya dalam diri setiap individu. Berapa banyak ego state yang ada dalam individu akan mempengaruhi tingkah laku orang
tersebut.
Berdasarkan
keberadaan ego state terdapat tiga komposisi yang ada dalam diri individu
adalah:
1. Ego
state normal
Sesuai dengan situasi dan
kondisi dimana orang itu berada. Penampilan ego state yang normal ini dapat
dilihat dalam suasana yang serius.
2. Ego state kaku
Ego state yang
ditmpilaknnya tidak berbeda tetapi hanya satu saja.
3. Ego state cair
Tidak ada batasan antara
penampilan ego state yang satu dengan yang lain.
C.
Teknik-teknik Konseling
Teknik
konseling yang digunakan dalam AT adalah :
1. Permission
Memperbolehkan klien melakukan apa yang tidak boleh
dilakukan oleh orang tuanya
2. Protection
Melindungi klien dari ketakutan karena klien disuruh
melanggar terhadap peraturan orang tuanya.
3. Potency
Mendorong klien untuk menjauhkan diri klien dari injuction
yang diberikan orang tuanya.
4. Operation
a) Interrogation
Mengkonfrontasikan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada
diri klien sehingganya berkembang respon adult dalam dirinya.
b) Specification
Mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingganya klien
paham tentang ego statenya.
c) Confrontation
Menunjukkan kesenjangan atau ketidak beresan pada diri
klien
d) Explanation
Transaksi adult-adult yang terjadi antara konselor dengan
klien untuk menejlaskan mengapa hal ini terjadi (konselor mengajar klien)
e) Illustration
Memberikan contoh pengajaran kepada klien agar ego statenya
digunakan secara tepat.
f) Confirmation
Mendorong klien untuk bekerja lebih keras lagi.
g) Interpretation
Membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah lakunya
h) Crystallization
Menjelaskan kepada klien bahwasanya klien sudah boleh
mengikuti games untuk mendapatkan stroke yang diperlukannya.
D. Kekurangan dan Kelebihan AT
1. AT Mengharapkan dan mendorong klien untuk hubungan diluar
ruangan konseling untuk mengubah prilaku yang salah.
2. Perilaku klien disini dan sekarang merupakan cara untuk membawa
perbaikan kilen.
3. Penekanan pada pengalaman kini dan lingkungan sosial.
4. Metode kontak dalam AT membuat klien untuk memiliki tanggung
jawab pribadi yang besar atas dari pengalaman konseling).
5. Mengajari klien untuk menyadari susunan permainan.
6. Klien merupakan peluang untuk mencari cara membebaskan diri
dan tingkah laku yang memanipulatif kepada tingkah laku yang efektif.
Sumber :
http://id.scribd.com/doc/97424921/Analisis-transaksional-makalah
http://www.vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=82:pendekatan-konseling-analisis-transaksional&catid=1:latest-news
http://counselingcare.blogspot.com/2012/06/konseling-analisis-transaksional.html
Sunday, March 31, 2013
Person Centered Therapy
Psikolog Carl Rogers memperkenalkan pendekatan baru untuk
psikoterapi yang berlari bertentangan dengan teori-teori yang dominan pada saat
itu. Metodenya, berpusat pada klien terapi. Konsep dasar dari Client-Centered Therapy atau Person Centered Therapy adalah bahwa inidividu memiliki kecenderungan untuk
mengakutalisasikan diri (actualizing tendencies) yang berfungsi satu sama lain
dalam sebuah organisme. Para terapis lebih terfokus pada “potensi apa yang
dapat dimanfaatkan”. Client-centered
therapy jarang mengajukan pertanyaan, membuat diagnosa, memberikan
interpretasi atau saran, menawarkan jaminan atau menyalahkan, setuju atau tidak
setuju dengan klien, atau menunjukkan kontradiksi. Sebaliknya, mereka
membiarkan klien menceritakan kisah mereka sendiri, dengan menggunakan hubungan
terapeutik dengan cara mereka sendiri.
Dalam client-tengah terapi, terapis mendengarkan tanpa
berusaha untuk memberikan solusi. Terapis harus menciptakan suasana di mana
klien dapat mengkomunikasikan perasaan mereka dengan pasti bahwa mereka sedang
dipahami ketimbang dinilai. Didalam terapi, terdapat dua kondisi inti: congruence dan unconditional positive regard. Congruence merujuk pada bagaimana
terapis dapat mengasimilasikan dan menggiring pengalaman agar klien sadar dan
memaknai pengalaman tersebut. Unconditional
positive regard adalah bagaimana terapis dapat menerima klien apa adanya,
di mana terapis membiarkan dan menerima apa yang klien ucapkan, pikirkan, dan
lakukan. Di samping itu , terdapat juga sejumlah konsep dasar dari sisi klien,
yakni self-concept, locus of evaluation, dan experiencing Self
concept merujuk pada bagaimana klien memandang-memikirkan-menghargai diri
sendiri. Locus of evaluation merujuk dari sudut pandang mana klien
menilai diri. Orang yang bermasalah akan terlalu menilai diri mereka berdasar
persepsi orang lain (eksternal). Experiencing, adalah proses di mana klien
mengubah pola pandangnya, dari yang kaku dan terbatas menjadi lebih terbuka.
Client-centered therapy (CCT) menekankan pada sikap dan
kepercayaan dalam proses terapi antara terapis dengan klien. Efektifitas dari
pendekatan terapi ini adalah pada sifat kehangatan, ketulusan, penerimaan
nonposesif dan empati yang akurat. Client-centered
therapy beranggapan bahwa klien sanggup menentukan dan menjernihkan
tujuan-tujuannya sendiri. Perlu adanya respek terhadap klien dan keberanian
pada seorang terapis untuk mendorong klien agar bersedia mendengarkan dirinya
sendiri dan mengikuti arah-arahannya sendiri terutama pada saat klien membuat
pilihan-pilihan yang bukan merupakan pilihan yang diharapkan terapis. CCT membangun
hubungan yang membantu, dimana klien akan mengalami kebebasan untuk
mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekarang diingkari atau
didistorsinya. Dalam Suasana ini klien merupakan narator aktif yang membangun
terapi secara interaktif dan sinergis untuk perubahan yang positif. CCT cenderung
spontan dan responsif terhadap permintaan klien bila memungkinkan. Seperti
permintaan untuk mengubah jadwal terapi dan membuat panggilan telepon pada
terapis.
Contoh-contoh dalam 3 macam formulasi kualitas terapis Rogers
yaitu congruence, ketika seorang
klien mengatakan keengganannya mengunjungi terapi karena baginya membuang-buang
waktu sang terapis. Maka sikap terapis yang ditunjukkan bahwa bagi sang terapis
hal ini tidak akan mebuang-buang waktunya dan mengungkapkan bahwa terapi ingin
bertemu dengan klien di lain waktu lagi jika terapis bersedia. Unconditional positive regard, ketika
terapis mengatakan bahwa masalahnya tidak akan berhasil diselesaikan maka
terapis dapat bersikap dengan memberikan percayaan pada klien bahwa ia dapat
menyelesaikan masalahnya dan terapis akan menerima klien apabila ia bersedia
dating kembali. Dan empathic
understanding of the client’s internal frame of reference, saat klien
menceritakan suatu kejadian, maka terapis mencoba memahami situasi saat itu
yang terjadi pada klien dan mencoba mendapatkan tanggapan kembali dari klien
dengan lebih banyak informasi.
Adapun teknik konseling
yang digunakan dalam clien center therapy adalah sebagai berikut :
1. Aceptance (penerimaan)
2. Respect (rasa hormat)
3. Understanding (mengerti, memahami)
4. Reassurance (menentramkan hati,
meyakini)
5. Encouragement (dorongan)
6. Limited Questioning
(pertanyaan terbatas)
7. Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan)
Carl Rogers memandang manusia dengan berorientasi pada
filsafat humanistik, dimana ia memandang manusia adalah individu yang positif,
rasional, sosial, bergerak maju dan realistik
Client-centered Therapy memiliki beberapa kekurangan,
diantaranya adalah untuk ketidakjelasan prinsip-prinsipnya, antipati terhadap
diagnosis, dan penekanannya pada klien evaluasi diri sebagai cara untuk menilai
hasil terapi. Klien-tengah terapi mungkin bekerja kurang baik dengan
orang-orang yang merasa sulit untuk berbicara tentang diri mereka sendiri atau
memiliki penyakit mental yang mendistorsi persepsi mereka tentang realitas.
Sumber :
Hall, C.S. and Lindzey.
(1993). Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Kanisius : Yogyakarta
Suryabrata, S. (2007). Psikologi
Kepribadian. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta
http://bimbingankonseling6.blogspot.com/2012/11/client-centered-therapy-cct_7354.html
http://www.health.harvard.edu/press_releases/client_centered_therapy
Sunday, March 24, 2013
Terapi Humanistik
A. Psikologi Humanistik
B. Teknik-teknik Terapi Humanistik
C. Kegunaan Terapi Humanistik
Pandangan Humanistik mempunyai orientasi nilai yang berpegang pada pandangan optimistis dan konstruktif tentang manusia dan kapasitas dasar mereka untuk dapat menentukan diri sendiri (self-determining). Psikologi Humanistik didasari oleh keyakinan bahwa kekuatan niat (intentionality) dan nilai-nilai etis merupakan kekuatan-kekuatan psikologis yang penting, sebagai bagian dari penentu dasar perilaku manusia.
Praktik terapi humanistik selalu diarahkan pada upaya untuk meningkatkan kesadaran akan kekuatan pilihan pribadi, namun tetap memperhatikan keefektifan kelompok-kelompok sosial.
Tujuan utama terapi humanistik adalah membawa individu untuk mengenali dorongan alamiah (innate tendency) untuk meningkatkan dirinya agar mengarah pada pertumbuhan (growth), kematangan (maturity) dan pengayaan hidup (life enrichment), juga mendorong individu untuk termotivasi dalam pengaktualisasi diri mereka.
Sumber :
Papalia, DE, Olds dan Feldman. (2009). Human Development Eleventh Edition. New York: McGraw-Hill
http://gierevolusi.blogspot.com/2012/04/review-buku-terapi-humanistik.html
http://books.google.co.id/books?id=buwj_j_4mukC&pg=PA354&lpg=PA354&dq=%22terapi+humanistik%22&source=bl&ots=LR_OS0c5Uv&sig=f1f6q_w2h0noPVFmvXDgEeYsSwY&hl=en&sa=X&ei=jPVOUaTdE8OXrge26YCoBQ&redir_esc=y#v=onepage&q=%22terapi%20humanistik%22&f=false
Perbedaan
psikologi humanistik dengan tiga aliran utama psikologi, diawali dari tokoh-tokoh
utama psikologi humanistik, yaitu Maslow yang mengemukakan teori hierarki kebutuhan
manusia, Rogers yang memperkenalkan client-centered
therapy, dan Rollo May yang mendalami pemanfaatan filsafat
eksistensialisme dan fenomenologi pada kajian masalah-masalah psikologi.
Psikologi
humanistik terutama berorientasi pada nilai-nilai manusia. Maslow dan Rogers,
misalnya, berpandangan bahwa perkembangan manusia mengarah pada aktualisasi
diri. Karena itu, menurut mereka pada dasarnya manusia ini mempunyai kekuatan
intrinsik yang pada hakikatnya mengarahkan dia untuk menjadi baik. Namun
pandangan ini ditentang oleh beberapa tokoh psikologi humanistik yang
menyatakan sebaliknya.
Bebetapa
istilah lain dari Kekuatan Ketiga yaitu : 'self-awareness movement' (karena kesadaran diri menjadi salah
satu kunci dalam psikologi humanistik), 'human potential movement' (karena ditujukan untuk selalu
lebih memanfaatkan poteni manusia sepenuhnya), 'personal growth' (karena didasarkan pada keyakinan bahwa
manusia dapat berkembang dari batas yang ia yakini sebelumnya, jika ia
memperoleh kesempatan yang tepat dan diberi keleluasaan pengambangan diri).
B. Teknik-teknik Terapi Humanistik
Secara tradisional, terapi hanya
diperuntukkan untuk menangani orang-orang yang mengalami gangguan emoional atau
penderita neurotik atau psikotik. Terapi humanistik juga dilakukan untuk
orang-orang yang “sehat” atau populasi normal, yang menginginkan pertumbuhan
pribadi yang lebih penuh. Jenis-jenis terapi humanistik adalah :
1. Person-Centered Therapy (Carl R.
Rogers)
Manifestasi teori kepribadian dalam keyakinan terhadap
pendekatan PCT terdapat tiga kondisi yang membentuk iklim yang meningkatkan
pertumbuhan tersebut, yaitu: (1) genuineness,
realness or cogruence, (2) acceptance
or caring or prizing – unconditional positive regard, dan (3) empathic understanding.
Teknik ini dipakai secara lebih terbatas pada terapi
mahasiswa dan orang-orang dewasa muda lain yang mengalami masalah-maalah
penyesuaian diri yang sederhana. Carl Rogers berpendapat bahwa orang-orang
memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan
pemenuhan diri. Dalam pandangan Rogers gangguan-gangguan psikologis pada
umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan
menuju aktualisasi diri.
2. Gestalt Therapy (Fritz Perls)
Terapi
Gestalt dipelopori oleh Frederich (Fritz) Solomon Perls (1893-1970), seorang
dokter yang mendalami psikoanalisis. Meskipun demikian, hal itu tidak
membuatnya gentar untuk berpikir kritis terhadap konsep psikoanalisis.
Terapi
Gestalt merupakan bentuk terapi yang merupakan refleksi berbagai ragam
pemikiran antara lain Psikoanalisis, Reichian character analysis, Jung annalistic
theory, Zen Buddism, Taoism, filsafat eksistensialisme, psikodrama.
Prinsip yang ada pada terapi ini adalah setiap individu harus menemukan jalan
hidupnya sendiri dan menemukan tanggung jawab pribadi bila ingin mencapai
kematangan. Penekanan terapi Gestalt adalah pada perubahan perilaku.
Asumsi dasar terapi ini adalah adanya
anggapan bahwa individu memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya
sendiri, cakap dalam mengambil keputusan pribadi, mampu mengambil keputusan
terbaik bagi aktualisasi diri secara mandiri, memiliki potensi, identitas dan
keunikan diri, selalu tumbuh dan mampu berubah. Tugas utama terapis adalah
membantu klien mengalami sepenuhnya keberadaannya disini dan sekarang (here and now).
3. Transactional Analysis (Eric
Berne)
Terapi ini dikembangkan oleh Eric Berne. Sebagai dokter jiwa,
Berne mendapatkan tugas untuk memeriksa kesehatan mental ratusan prajurit
Amerika. Untuk itu ia memiliki waktu yang terbatas. Sehubungan dengan hal
tersebut, Eric mengembangkan metode yang cepat dan praktis guna mengenali
kondisi mental para prajurit. Berdasarkan metode yang diterapkan ini, ternyata
ia mampu mengenali karakteristik para prajurit dalam waktu singkat. Berdasarkan
metode yang serupa dikembangkan Transactional
Analysis Therapy atau terapiAnalisis Transaksional (A. T.) Analisis
Transaksional merupakan bentuk terapi yang lebih memfokuskan pada kemampuan
individu untuk mengambil keputusan baru. Terapi ini menekankan aspek
kognitif-rasional-behavioral dalam membuat keputusan baru.
4. Rational-Emotive Therapy (Albert
Ellis.
Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
5. Existential Analysis (Rollo May, James F. T. Bugental) dan Logotherapy (Viktor Frankl)
Konsep dasar terapi eksistensial adalah mengubah konsep berpikir, dari kondisi merasa lemah dan tidak berdaya menjadi lebih bertanggung jawab dan mampu mengontrol kehidupannya sendiri, menemukan jati dirinya, sehingga menemukan kesadaran diri sendiri yang dapat mengeliminasi perasaan tidak berarti (not being) sedangkan perasaan tidak berarti ini biasanya muncul dalam kondisimerasa tidak berdaya, rasa bersalah , putus asa dsb. Konsep teori eksistensialis bukan merupakan sistem terapi yang komprehensif, eksistensialis memandang proses terapi dari sudut pandang suatu paradigma untuk memahami dan mengerti kondisi individu yang sedang bermasalah. Oleh karena itu, terapi eksistensialis memandang klien sebagai manusia bukan sekadar aspek pola perilaku beserta mekanismenya.
Konsep dasar terapi eksistensial adalah mengubah konsep berpikir, dari kondisi merasa lemah dan tidak berdaya menjadi lebih bertanggung jawab dan mampu mengontrol kehidupannya sendiri, menemukan jati dirinya, sehingga menemukan kesadaran diri sendiri yang dapat mengeliminasi perasaan tidak berarti (not being) sedangkan perasaan tidak berarti ini biasanya muncul dalam kondisimerasa tidak berdaya, rasa bersalah , putus asa dsb. Konsep teori eksistensialis bukan merupakan sistem terapi yang komprehensif, eksistensialis memandang proses terapi dari sudut pandang suatu paradigma untuk memahami dan mengerti kondisi individu yang sedang bermasalah. Oleh karena itu, terapi eksistensialis memandang klien sebagai manusia bukan sekadar aspek pola perilaku beserta mekanismenya.
C. Kegunaan Terapi Humanistik
Pandangan Humanistik mempunyai orientasi nilai yang berpegang pada pandangan optimistis dan konstruktif tentang manusia dan kapasitas dasar mereka untuk dapat menentukan diri sendiri (self-determining). Psikologi Humanistik didasari oleh keyakinan bahwa kekuatan niat (intentionality) dan nilai-nilai etis merupakan kekuatan-kekuatan psikologis yang penting, sebagai bagian dari penentu dasar perilaku manusia.
Praktik terapi humanistik selalu diarahkan pada upaya untuk meningkatkan kesadaran akan kekuatan pilihan pribadi, namun tetap memperhatikan keefektifan kelompok-kelompok sosial.
Tujuan utama terapi humanistik adalah membawa individu untuk mengenali dorongan alamiah (innate tendency) untuk meningkatkan dirinya agar mengarah pada pertumbuhan (growth), kematangan (maturity) dan pengayaan hidup (life enrichment), juga mendorong individu untuk termotivasi dalam pengaktualisasi diri mereka.
Sumber :
Papalia, DE, Olds dan Feldman. (2009). Human Development Eleventh Edition. New York: McGraw-Hill
http://gierevolusi.blogspot.com/2012/04/review-buku-terapi-humanistik.html
http://books.google.co.id/books?id=buwj_j_4mukC&pg=PA354&lpg=PA354&dq=%22terapi+humanistik%22&source=bl&ots=LR_OS0c5Uv&sig=f1f6q_w2h0noPVFmvXDgEeYsSwY&hl=en&sa=X&ei=jPVOUaTdE8OXrge26YCoBQ&redir_esc=y#v=onepage&q=%22terapi%20humanistik%22&f=false
Subscribe to:
Posts (Atom)
